Deskripsi:
Tidak banyak diplomat yang biasa dan terbiasa menulis. Padatnya tugas dan rutinitas yang diembankan negara kepada mereka, membuat waktu tersita habis untuk sebuah pengabdian. Tentu saja hal demikian membanggakan dan membahagiakan karena dapat mununaikan amanat yang diberikan bangsa dan negara, khususnya dalam mengemban misi Indonesia di kancah Internasional.
Namun demikian, lebih membanggakan lagi dan merupakan suatu keistimewaan bila seorang diplomat juga mahir dan produktif menulis. Memang dibutuhkan waktu dan intelektualitas tersendiri sehingga mampu melahirkan karya dalam bentuk buku. Bukankah buku ata menulis, juga dapat dijadikan sarana atau alat beraktualisasi dan berkomunikasidalam rangka tugas diplomaik?
Apa yang dituangkan oleh bapak Abdul Irsan, penulis buku ini, jelas menggambarkan betapa penting diplomat kita membiasakan, atau paling tidak, memiliki kemampuan menulis sehingga tugas-tugas negara dapat dijalankan dengan baik. Selain itu, juga menunjukan kualitas diplomat kita mampu bersaing dengan kalangan diplomat asing, utamanya dalam aktualisasi dalam bentuk tulisan maupun karya.
Bahasan dalam buku ini juga membuktikan penulisnya memiliki pemikiran yang rasional, integral, dan mendalam untuk kepentingan bangsanya. Memang, pelaksanaan hubungan Internasional suatu negara yang dituangkan dalam bentuk diplomasi, tidak dapat dilepaskan dari sikap, cara pandang, jalan fikiran dan kepentingan politik dari mereka yang sedang memegang kekuasaan negara. Tohk demikian, kualitas diplomat juga sangat diperlukan agar mampu menerjemahkan kepentingan bangsa dan negaranya.
Buku berjudul Hari-Hari yang Mendebarkan, Catatan Seorang Diplomat., ini hanyalah sedikit dari kebanggaan yang dapat disunting dalam bentuk buku ini membahas kiprah dan dedikasi penulisnya didunia kediplomatan maupun selama selama meniti karir di departemen luar negeri selama lebih 42 tahun. Mudah-mudahan karya reflektif dan tercerahkan ini ada manfaatnya bagi kita semua.
|