Navigation


07 Feb 2012



Resensi - Inside Gaza, Genosida Israel di Gaza dan Palestina



Invasi militer Israel ke Jalur Gaza selama 22 hari yang dimulai sejak 27 Desember 2008 tak bisa dilupakan begitu saja.
Aksi brutal tersebut telah menghadirkan sebuah kerusakan yang begitu mengerikan di muka bumi. Sekitar 1.300 jiwa penduduk Palestina, sebagian adalah anak-anak dan perempuan, tewas dalam pembantaian tak berperikemanusiaan.
Kekejian yang diciptakan pasukan Negeri Zionis disertai berbagai aksi kotor, seperti penggunaan senjata kimia yang dilarang semacam bom fosfor putih. Semua terasa semakin menyesakkan karena negara adidaya seperti Amerika Serikat, Perserikatan Bangsa- Bangsa, dan perkumpulan negara Uni Eropa, balik menyalahkan Hamas yang hanya menembakkan roket secara sporadis ke wilayah Israel.
Memang konflik di Palestina seakan tak pernah berujung dan aksi kekerasan terus terjadi di sana. Namun, bukan alasan bagi dunia dan umat Islam di dunia berdiam diri atau merasa lelah untuk memperjuangkan kembali kemerdekaan Palestina. Sebab, Israel yang mencaplok dengan semena-mena tak pernah puas membantai warga sipil di sana dan terus memperluas wilayah pendudukan.
Apalagi selama ini rakyat Palestina yang sudah begitu menderita seakan tak mendapat perhatian dunia internasional. Mereka hanya bisa mengeluarkan kutukan dan keprihatinan tanpa melakukan tindakan nyata melawan militer Israel. Padahal, darah di Gaza sudah mengalir bak sungai, jerit kepedihan anak-anak selalu dibungkam raungan mesin-mesin perang Israel, dan nyawa begitu tak berarti lagi.
Aksi kekerasan yang terjadi sejak 1948 di Palestina diangkat kembali dalam buku Inside Gaza yang ditulis Yeyen Rostiyani dengan gaya bahasa jurnalisme. Buku setebal 141 halaman yang diterbitkan Kinza Books ini kembali mengulas aksi serangan 22 hari militer Israel.
Bukan itu saja, penulis yang seorang jurnalis mengungkapkan sejarah panjang agresi Israel terhadap Palestina. Sejumlah fakta baru tentang motivasi agresi militer Israel diungkapkan penulis secara sederhana yang dirangkum dari berbagai sumber berita luar negeri.
Misalnya, tentang potensi minyak di pantai Gaza,perang negara maju dalam aksi brutal terhadap penduduk Gaza, dan ambisi Negeri Zionis itu membentuk pemerintahan di jantung negara-negara Arab di Timur Tengah. Tak ketinggalan disajikan perjuangan rakyat Palestina yang tak mau menyerah melawan penindasan.
Meski kekuatan militer yang dimiliki tak seimbang dan dukungan yang minim, mereka tak mau mengakui Israel yang telah menjajah dan melakukan genosida sebagai negara. Penulis pun melengkapi dengan berbagai faksi kekuatan yang ada di Gaza, seperti Hamas dan Fatah.
Bagaimana sikap dan sepak terjang mereka dalam menjalankan kebijakannya untuk mencapai Palestina merdeka. Walaupun ditulis secara sederhana, buku ini mampu menyegarkan ingatan kita bahwa kebiadaban Israel tak akan pernah berhenti sampai seluruh penduduk Palestina habis.
(wasis wibowo)

Sumber: Koran Sindo, 26 Februari 2009